Jumat, 12 Januari 2024

Kumpulan mimpi Sekte sesat terbaik tahun 2019

 


   Tepat jam tiga sore saya memulai menulis cerita ini. Dengan menikmati tepi barat Madura dan bermandikan matahari, yang tidak tahu darimana datangnya. Padahal pulau Jawa nampak kelabu, dan tak memungkinkan melihat sang Arjuna. Kopi hijau saran kakang Bendol menjadi ketertarikan saya sendiri memaknai pinggir laut Madura hari ini. Mungkin ada yang menebak di tulisan saya bakal ada rokok, karena secara istilah, itu teman kopi. Ada benarnya juga, saya cukup pusing untuk menghisap uap elektronik.

   Menikmati tiap detiknya dan sedikit beremosi didalamnya, menumbuhkan pikiran "besok saya mau jadi apa kalau kayak gini terus?". menyusul mimpi-mimpi kawan sepenangkaran yang terlihat jelas dan semakin menuju titik lokasinya.

   Tak genap dari sebulan, hari lalu saya menjadi asisten fotografer seseorang yang bangga dengan ilmu Parentingnya. Semakin lama, semakin kesana saja orang ini. Dalam selayak pandang mata saya, ia menerima permintaan jepret foto yang diidam-idamkannya dua tahun lalu. Saya mengamati perkembangannya yang mulai dari memfoto sekitar, lalu mengikutinya di ranah tersebut. Orang ini juga belajar cara bersolek, hanya untuk memuaskan kesukaannya. 

   Terbesit pikiran bahwa orang itu butuh asisten yang tidak asal samacam saya di masa depan, orang yang mengetahui secara pasti cara menggunakan kamera beserta fitur-fiturnya. Apalagi cita-cita keluarga happy kiyowo-nya membuat saya ingin agak menjauh sedikit, agar suaminya nanti tidak cemburu. Maklum saja, muka saya mendukung sebagai pelaku poligami.

   Lalu syaraf otak beralih kepada manusia anti kritik yang saya ajak bicara dini hari tadi. Mimpinya terasa seperti utopis, namun saya yakin ia bisa mewujudkannya jikalau ia tetap keras hati kepada siapapun. Betapa tidak utopis, pria narsistik itu ingin hidup di wilayah kepimilikannya sendiri tanpa intervensi dari orang-orang gila yang menjajah tanah di desa.

   Ada perbedaan pada cara kami berpikir, yang pernah saya utarakan langsung kepadanya, yakni "kita akan bentrok", pada beberapa tahun lalu. Dia beringinkan hidup bertahan dari gempuran manusia 'goblok' dan menciptakan kelompok tandingan yang jelas berbeda dengan saya, yaitu lebih baik menggenosida atau menyerang. Tapi, saya mendukungnya agar dia bisa menghabiskan sisa hidup dengan keberdikarian-nya.

   Baik lah, manusia boleh bermimpi seliar apa dan boleh seekstrim apa mewujudkannya, toh semua punya jalannya sendiri. Kembali kepada kisah cinta pada duniawi, yang saya dapatkan pada si kakang Bendol. 

   Cinta kakang Bendol pada per kafir kafein- an menyimpulkan saya pada satu pertanyaan, "Seberapa lama kakang ingin melek?". Pasalnya, ia adalah peminum tangguh yang menganggap air apapun tetaplah air, ia tidak perduli dengan kecanduan, yang sebenarnya ia sudah menjadi candu itu sendiri. 

   Bermula dari mimpi sederhana kakang Bendol membuat warung kopi sendiri, padahal ia berlatar intelek melek hukum, namun ia tak mau menggunakannya. Haha, terdengar seperti " ijazah hanya sebuah kertas". Apapun itu, ia sudah belajar untuk selalu mawas diri dari sebuah kopi yang menjaga matanya dari perilaku merenggut keanarkisan kaum akar rumput. Saya paham akan cintanya pada orang-orang yang berpikir "ngopi ae gak resiko".

   Kalaupun ada orang yang berpikiran mengikuti arus global warming, seperti kebejatan mental, bahasa untuk ngeseks (love langauge), dan perkara halu lainnya, saya bisa mengajukan pion bernama "Let It Flow", oke kita singkat saja namanya menjadi Silit.

   Silit menyempil di antara dua bokong, dan keberadaanya adalah penyeimbang dua benda bulat tak berpentil. Ini bukan meracau kisanak, si Silit ini memang tidak selalu terlihat diantara sekte 19 (nomor togelnya pelacur), tapi keberadaanya menjadi poros untuk menetralkan sebuah perang idealis di antara sekte sesat. Gaya bahasanya familiar di feed Instagram, terlihat sepele, namun itu adalah pandangan objektif dari masyarakat. 

   Silit juga menjadi tempat kedua favorit, setelah v*g*n*. Jikalau anda berpikir saya jorok, berarti anda tidak se-open minded si Silit. Maksud saya, Silit ini terlihat ingin cepat sekali menikah atau memanfaatkan organ intimnya, lalu menjalani kehidupan normal ala-ala pepatah orang tua. Lucu sekali, Silit terlihat hanya ingin di tengah diantara dua bokong.

   Lalu ada seseorang pria bertubuh tidak pasti yang bisa diartikan, mungkin satu gerakan dengan si Silit. Awalnya saya mengira, efek Ratu Elizabeth menghegemoni tutur bicaranya kepada seluruh dunia menjadi pengaruh Silit dan pria yang bakal kita sebut 'orang ini' menjadi seliar itu mengilhami demokrasi dan pengaruh barat.

   Tapi, Orang ini terlihat agak berbeda walaupun sama. Penampilan dan gaya sosialita bak bapak bapak kompleks perumahan, meyakinkan saya untuk terpaksa mengakuinya sebagai seorang "ibu". Orang ini selalu menjadi sosok ibu bagi orang-orang penangis disekitarnya (walaupun saya tahu sesangar apa dia dalam mendogma pikiran orang lain).

   Akhir-akhir waktu, 'orang ini' semakin mendalami perannya sebagai anti Asia. Saya memandangnya sebagai seonggok manusia yang tertarik dengan kebarat-baratan, mulai dari topik pembahasaan, film, lagu, dan ranah lainnya. Orang ini juga semakin tekun dalam keinggrisan, tak dapat dipungkiri, saya mendoakan ia menjadi pro dalam studinya. Semoga 'orang ini' mampu berkuliah di luar negeri seperti keinginannya, dan sepanjang hidup mencolikan bule-bule di luar Indonesia.

   Oke, agak bosan untuk mengikuti tulisan ini pemirsa?, seperti halnya perempuan yang akan saya ceritakan sehabis ini. Keras kepala, tidak mau mengalah, egois, tidak mau jadi guru, tidak mau dipanggil nama depannya, suka merica. Saya definisikan sekalimat itu untuk memecah hubungan orang-orang yang nyaman dengannya. Walaupun, kepolosan dan ketakdzimannya menjadi modal kuat dalam mempengaruhi orang sekitar, tapi saya tetap memandang perempuan itu seperti kalimat di atas. Entah kenapa, saya lebih suka kamu seperti itu, Merica.

  Ketidakinginannya menjadi guru, berkeinginan kerja sesukanya, dan tidak menargetkan secara pasti masa depan, menurutku..Hey, kamu cukup polos di sikap saja, bukan pemikiran juga. Tapi, saya salut dengan kekerasan kepalanya, natural dan kesantunanya akan saya hormati sepanjang usia. Cukuplah 'perempuan', kamu tidak jadi seorang guru, tapi aku yakin kamu tetap guru dimanapun kamu memilih semak belukarmu sendiri. Semoga kucingmu, tidak mati ketika kita bertelpon.

   Mimpi-mimpi dan harapan masa depan mereka menjadi dua sisi pada pikiran saya, yakni "saya ini siapa?" dan "saya ini siapa-siapa". Sepertinya saya bisa menjadi diri saya sendiri, orang yang menemukan diri sendiri di orang lain semacam mimpi sekte tersesat tadi, di tempat berbeda, di waktu kapanpun. 

   Saya rasa, menjadi petualang atau orang yang senang tersesat adalah hal baik, karena itu merangsang otak untuk memikirkan jalan keluar. Mimpi saya sederhana, namun sulit mungkin jikalau menjadi dan mencari saya secara harfiah dan metafora. Karena saya akan menjadi nomaden yang terus mencari-cari seperti kisah Ibrahim dengan tuhannya, atau bisa anda sebut 'petualang'.


Hilmy Fahrul A.K.A Modcha, Ahr 
- 3 Oktober 2022 -




Minggu, 23 April 2023

Tidak Ada Maaf Bagimu

 



Biarkan aku berteriak :

Gelap malam adalah waktu yang indah untuk terlelap dan menjauhkan diri dari berisiknya manusia dan pikiran. Namun, pernahkah kau mendengar tangisan dan ratapan pada pukul dua pagi?.


Jika kau anggap itu kuntilanak dan mahluk ghoib tidak masalah, tapi bukan itu yang ingin kuberi tahu. Tangisan yang kumaksud adalah tangisan manusia yang darimana asalnya dia bisa se-letoy itu. Untuk apa malam kau sesali?, Hey, aku berbicara pada kau yang berharap putus asamu, cintamu, pekerjaanmu, dan tetek-bengeknya menjadi sesuatu yang indah. Toh, esok pagi kau akan terbangun, dan harus berjuang untuk memuaskan ratapan-ratapan bulanmu itu.


Jika ku mengetuk pintu kamar kalian wahai para hamba kesedihan gulita, apakah kalian bakal diam dan kembali tidur?. Tidak, aku yakin kalian hanya ingin pelukan hangat dari orang-orang tidak jelas yang menggedor pintu jam tiga pagi ini dan memohon perlindunganku.


Jancok, mintalah perlindungan pada tuhan, aku bukan nabi yang diutus menyelamatkan umat, aku hanya tetangga yang terganggu suara risaumu itu. Terus, apalagi ini?, ada sisa gerusan obat-obat tidak jelas di sekitar paha mereka, bahkan mereka menangis hingga matanya memerah, dan mengalami tremor. Pergilah ke dokter, pelacur. Kau nampak sakit, jika kau tak mampu akan kuantarkan engkau kesana hingga sembuh dan jangan pernah menggangguku lagi.


Kesalnya lagi, mereka ini apakah tidak punya sesuatu yang dapat diimpikan kah?, Terbukti setiap malam berjaga, tidak makan dan minum, bahkan bisa terdiam dalam satu fokus untuk jangka waktu yang lama. Apalagi mereka ini besoknya menghamba dunia, mencari uang, lalu berkeluh kesah lagi. Memang kemanakah uang-uangmu itu, tidak dapatkah kau membeli kebahagiaan?.


Pernah suatu hari mereka datang menghampiriku di rumah, meminta agar memberi makanan dan ditemani sedikit malamnya. Memangnya mereka-mereka ini tidak punya rumah kah, Maksudku secara harfiah dan metafora. Terbukti selalu memohon untuk dipersilahkan berteduh di rumahku, itu pun tidak dalam waktu yang singkat. Kadang aku harus bercengkrama hal tidak perlu, hanya untuk membuatnya merasa nyaman. Aku mendengar cerita mereka,  karena aku hanya ingin mereka segera pergi, menemukan rumah mereka kembali (jika lupa jalannya). Memangnya mereka saja yang punya masalah?, aku juga punya waktuku sendiri, aku juga ingin menghabiskan waktuku sendiri, berbahagia. Tidak seperti mereka yang tersesat ini.


Kadang aku berpikir, seberat itu kah hidup di dunia, hingga aku harus terganggu dan mereka harus mencari-cari orang sepertiku. Memang sesulit itu mencari ketentraman hati, hey.. orang-orang tak punya harapan. Aku memeluk dan menangis bersamamu, karena aku terbawa suasana. 


Terserah mereka menganggapku iblis, malaikat, hewan atau apa-lah itu namanya. Mereka juga punya hak untuk memeluk dan mencampakkanku. Aku di sini hanya untuk menunggumu tidak mengganggu malam-malamku.


Bisa saja mereka menghabiskan sepanjang hidupnya untuk merasakan sepinya dunia. Atau memelukku hingga nafas terakhir para bangsat ini mendengus di telingaku. Bahkan,  kembali ceria dan mencampakkan malam-malam lalu yang bersamaku. Aku tidak peduli, kebahagiaanku itu harus, kebahagiaan mereka juga terserah mereka, jikalau mengikuti prinsipku, ya harus.


Biarkan aku di sini menghisap tembakau-tembakau terakhirku dan berpikir. Mungkin aku bisa berselimut di ranjangku dan tidak terganggu oleh manusia-manusia berisik, tapi aku tidak bisa mengulang waktu untuk menghangatkan mereka yang kedinginan di luar sana. 


Aku tak ingin kehilangan 'dirinya' lagi.


Modcha, 2 Syawal 1444 Hijriah.

Kamis, 19 Maret 2020

Rama dan Tata


Tata
Sudah lebih dari seminggu Tata meninggalkan ‘pria’ yang dianggapnya hidung belang. Tata kesal, sekaligus marah dengan prilaku pria tersebut yang menduakannya dengan wanita lain. Tata menganggap bahwa dia adalah orang yang tidak setia, maka pantas untuk meninggalkannya.
Tata menangis pada malam saat dia mencampakkan ‘pria’ itu, dia sangat kecewa akan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya. Menangislah sejadi-jadinya hingga ia melupakan dan menghapus segala memori tentang pria tersebut. Tata yang bekerja di sebuah perusahaan sepatu, mula-mulanya tidak fokus bekerja karena keputusannya ini, dia menjadi seseorang yang menutup diri dari semuanya, membenci segala pria di sekitarnya. Karena dia khawatir akan terulang kembali.
Nita teman kerja Tata, merasakan adanya ketidakberesan akan prilaku Tata akhir-akhir ini. Dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan, apabila Tata masih tidak fokus bekerja. Nita yang kebetulan sebangku saat makan siang dengan Tata, memberanikan diri untuk bertanya. ”Kamu Kenapa,? Tanya Nita sambil memakan bekalnya, ”nggak apa-apa.” Jawab Tata. ”Malam ini aku ke kost-anmu yah, aku mau tanya soal pakaian, kamu kan pinter milih-milih desain.” Tanya Nita. Tata pun meng-iyakan permintaan Nita.
Pada malam harinya Nita datang menemui Tata. Mereka bercengkrama tentang desain baju hingga larut malam, hingga Nita berhasil memengaruhi Tata untuk jujur dengan kondisinya. “Ta, kamu harus fokus kerja, biar tidak menganggu prosesmu nanti,”, ”aku gak bisa fokus, aku masih kecewa dengan sikap ‘dia’ yang menduakkanku,”,”kamu harus meninggalnya Tata, dia nggak baik buat kamu, masih banyak yang lebih baik dari ‘dia’, aku bisa mengenalkanmu pada saudaraku, kok,”,”nggak, aku nggak mau semua terulang, semua lelaki sama aja,”,”coba dulu, masih banyak yang lainnya kok,” Nita meyakinkan Tata dengan menunjukkan nomor telepon lelaki yang dijanjikannya. ”kamu yakin?” Tata masih ragu-ragu.”sudahlah, coba dulu.”
Nita berhasil menenangkan pikiran Tata pada malam itu. Pada keesokan harinya, Tata mencoba untuk fokus bekerja dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tata  mulai memberanikan diri bertemu dengan lelaki barunya, Husain, setelah saling mengirim pesan melalui aplikasi pesan singkat selama 2 bulan. Mereka bertemu di taman Bungkul, pada malam hari sabtu bulan Juni. Awalnya mereka canggung, akan tetapi mereka berhasil memahami satu sama lain. Yang itu, berlanjut hingga mereka berhasil pacaran dan menikah. Tata dan Husain dikaruniai seorang putra lucu bernama Roy.
Kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan langgeng, hingga Husain yang notabene adalah supir truk harus bekerja diluar pulau untuk menghidupi keluarganya, karena Husain merasa bekerja di luar pulau dapat membuat keluarganya lebih sejahtera. Tata dan Roy yang ditinggal Husain bekerja, pada awalnya hidup dengan tentram. Hingga Husain harus dipecat oleh perusahaannya karena dianggap tidak becus dalam bekerja, selama 3 bulan berbakti pada perusahaan.
Husain yang dulu baik dan tangkas, berubah menjadi pria pemabuk. Dia pulang ke rumahnya melaporkan kondisinya sekarang dengan keadaan mabuk arak. Tata yang menyadari akan perubahan suaminya ini, memarahi dan mengingatkannya. Husain tidak lagi peduli pada istrinya, beban hidup dan keputusasaannya terhadap pekerjaan, membuat Husain menyakiti Tata. Husain memukul istrinya itu berkali-kali, hingga mulut Tata mengeluarkan darah. ”Aku sudah muak denganmu, aku tak pernah dilakukan seperti ini pada pria terdahuluku, dia selalu meminta maaf, dan malah menyuruhku untuk memukulnya apabila dia salah. TIDAK SEPERTI KAMU,” Tata pergi meninggalkan rumah dengan menggendong anaknya yang masih bayi. Anaknya tersebut dititpkan pada orang tua Tata, yang tinggal di Tuban. Tata yang merasa bersalah kepada ‘pria’ tersebut, mulai mencari keberadaannya. Tata mencari ‘pria’ itu dari mulut ke mulut tempat pria iu inggal. Hingga, Tata mendengar kabar bahwa ‘Pria’ itu telah meninggal 1 tahun yang lalu, karena sebuah insiden. Tata juga mendapat informasi, bahwa ‘pria’ tersebut tidak pernah merasakan berkeluarga seumur hidupnya. Menangislah sejadi-jadinya Tata mendengar kabar tersebut.
Tata kecewa dengan sikapnya meninggalkan pria tersebut. Tata tidak pernah mendengar cerita, atau jawaban dari pria tersebut seumur hidupnya. Bahkan, Tata tidak pernah membalas jasa si pria tersebut. Tata pun tersiksa hatinya, hari itu. Meninggalkan luka yang dalam pada hatinya, hingga terkoyak dan tak dapat dijahit kembali.
Rama
Rama yang kehilangan orang dicintainya tersebut, merasa bersalah. Dia tidak memberikan jawaban yang benar sebelum Tata, orang yang dicintai meninggalkannya. Rama yang mempunyai banyak kenalan wanita lain di nomor teleponnya, tidak lagi merasa bernafsu untuk mencari pengganti Tata. Dia berpendapat bahwa tidak akan ada lagi yang menyakitinya, dan dia tidak ingin menyakiti wanita lain selain Tata.
Idealisme yang kuat ini mengantarkannya pada kesuksesannya setelah menempuh pendidikan universitas. Dia berhasil fokus dalam mengarungi lika-liku kehidupan, hingga menjadi pria sukses. Kesuksesannya tidak mempengaruhi kondisi psikis dan idealismenya yang kuat. Dia masih membujang hingga waktu yang lama.
Rama semakin merasakan kehidupannya tidak berguna. Dia tidak berhasil membawa mimpi orang tuanya, yang meningingkannya menikah dan mempunyai cucu. Dia hawatir akan menyakiti hati yang lain. Sehingga, Rama mengambil cuti kerja seminggu untuk menenangkan pikirannya di Bali.
Rama yang telah melalui 3 hari di Bali, masih merasa bahwa despresinya tidak berkurang, malah semakin menjadi. Hingga akhirnya, tibalah pada hari ke empat. Rama yang mempunyai jadwal menaiki kapal pada hari itu menuju nusa penida, nekat menceburkan diri ke laut hingga dirinya tewas pada hari itu juga. Rencana bunuh dirinya ini sangat matang, dia memang sudah berencana bunuh diri pada umur 21 tahun, dia mengkonsep bunuh dirinya scara rapi agar tidak pernah diidentifikasi sebagai bunuh diri, dan rama juga telah menulis di ribuan lembar kertas wasiatnya.
Rama meninggalkan semua yang ada, dia bertemu dengan pujaannya ‘Ghost Girl’.

Isi sebagian surat wasiat Rama :
Tata maaf mengecewakanmu, tetapi mereka bukanlah siapa-siapaku. Mereka hanya orang sedih yang kuberi motivasi agar mereka mampu menjalankan hidupnya.  Maafkan aku bila tidak bisa menjelaskan semua ini kepadamu, aku hanya ingin fokus pada kehidupanku dahulu, sebelum kita bisa hidup bersama. Tapi, tidak mungkin. Aku harus kehilanganmu terlebih dahulu. Aku despresi hingga saat itu, kau tidak ada disisiku, hal itu membuatku tidak tenang, aku masih belum menceritakan semuanya padamu.
Tata, semoa kau bahagia dengan kehidupanmu, lupakan semua pemberianku, lupakan. Aku bukanlah siapa-siapa lagi sekarang. Kini biarkan aku bertemu ‘Ghost Girl’ , aku yakin dia sudah menungguku. Aku pun sudah mendengar kabar tentang keluarga kecilmu, semoga tuhan bersamamu. Biarkan aku berdarah kali ini, meski kau tidak pernah berdarah untukku. Biarkan aku bebas kali ini, membawa semua rasa sakit ini, kuharap kau tidak pernah mengenalku,Tata.

Jumat, 06 Maret 2020

Tribute to Emnx





Mdch :

Pagi ini aku merasa sedikit senang, karena hari ini adalah hari sabtu, dimana besoknya adalah waktu libur sekolah. Tak terlepas dari kejadian menyenangkan hari kemarin, aku semakin siap menghadapi hari-hari berikutnya. 

Mulailah aku dengan menjadi murid sekolah yang tenang, yang mengharapkan segera tibanya bel pulang sekolah. Aku pun segera beranjak dari kelas yang telah kusinggahi selama 5 jam tersebut hari ini. 

Aku selalu bersama kakak ku, dia juga murid yang sama di sekolah kami. Aku mereka-reka bahwa kami akan berkumpul lagi bersama teman-teman lain, seperti rutinitas kami pada hari sabtu yang lain. kakak ku berkata "ikut aku mencari ukulele" dengan wajah yang seperti kebingungan. Kami pun berangkat mengitari pasar Krian mencari ukulele itu, hingga menemui sebuah toko olahraga. Negosiasi barang berjalan pada angka 75.000, kakak ku pun membelinya. Pikiranku kembali lagi pada awal, 'apakah kami akan berkumpul bersama teman-teman?'. Kakak ku yang menyetir sepeda motor seperti memberi isyarat tidak, dia langsung beranjak pulang ke rumah.

Kami berpisah sementara waktu, aku tak bisa melihatnya tertawa atau tersenyum hari ini. aku pun pulang ke rumahku sendiri. Senja tiba menggerogoti matahari, aku menuju rumah kakak ku, akan tetapi dia sedang pergi. Aku menunggunya dengan memainkan ponselku, hingga waktu menunjukkan sekitar jam 8 malam. Dia pulang dan menghampiri diriku.

"aku pinjam hp-nya" ujarnya. tetapi baterai ponselku sudah hampir habis, aku pun bergegas meninggalkannya pulang. waktu itu aku tidak melihat wajahnya sama sekali, tapi aku seperti paham bahwa dia sedang kecewa, karena aku tidak meminjaminya hpku. Aku pun pulang ke rumah dan tidur. dia pun juga pergi bersama teman-teman yang lain.

Emnx :
Suatu malam kami bertiga yang sudah berjanji bertemu, aku, idham, egy akan berangkat ke sebuah tempat. Menghabiskan satu gelas terakhir dan berangkat kembali. kami bertiga berboncengan sebuah motor, tiba-tiba ada sepeda motor dari arah lain melaju kencang dengan membawa sesuatu di tangannya mendekati kami, oleng ke kanan dan menjatuhkan kami bertiga. Aku berputar ke tanah, wajah kiriku mencium aspal, darah mengalir dari segala tempat, aku bisa menciumnya, ya bau darah yang melekat di aspal, sungguh bau yang indah.
Malang nian nasibku, aku tak berdaya menggerakkan tubuhku, pandanganku semakin kabur, aku khawatir dengan kesadaranku, "wahai pelipis kiri, kenapa kau tidak menghentikan si darah untuk mengalir?, aku sudah pusing". Aku tak mengerti dengan apa yang kulihat, semua berjalan cepat, aku menuju dari meja ke meja. Bapak ku, ya aku bisa melihatnya sekilas, "apa yang terjadi padaku pak?, dimana ibu?, aku takut semua semakin gelap, dimana adikku?, aku tak bisa merasakan wajahku, kenapa aku tak bisa menangis?."

Semua terasa gelap, hingga sepercik cahaya menyilaukan mataku, kukejar cahaya itu, kuharap aku bisa segera mengetahui apa yang terjadi.

Mdch :

Aku mendengarnya, antara jam 2 pagi, aku tidak percaya bahwa kakak akan meninggalkan kami, aku tak bisa tidur setelah itu. Menunggu kedatangannya, hingga akhirnya dia datang dengan mobil putih langganan rumah sakit. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya, hingga aku mengikutinya pada sebuah pemakaman. Kain itu disingkapkan dari wajahnya, aku melihat liang yang berair itu berwarna merah, darah masih mengalir di otaknya, hingga semua berakhir, hingga aku berjalan pulang kembali ke rumah kakak ku.

Jam 6 pagi, aku tidak percaya, "apakah hari ini benar-benar ada?"

  rest my brother in the same day at 8 March 2015. I hate you leave me, I hate this day, I lose every game I play. But i just want one thing, hug and never let you go again. 

                                                                                                                                5 years after tragedy
                                                                                                                     See u later, my bloody rose


nb. penabrak itu tak pernah datang kerumah kami, menghilang, meninggalakn pisau lagi ditanganku.

Selasa, 25 Maret 2014

sang blogg

                               





ini kisah tentang perjalanan saya

disini anda akan mendengarkan kisah saya saat masih kecil yan mendambakan membangun sebuah grub.mulai dari bermain dll.


tanpa panjang lebar lagi neeh gua kasih

dulu di saat aku masih kelas 5 sd aku memimpikan sebuah stadion sendiri(namanya anak'' suka khayal laah).aku mulai dengan menyekutukan tetangga dan saudaraku untuk membuat sebuah grub bermain.kami tiap hari bermain(kecuali kalo ada masalah).mimpi kami akan kami wujudkan itulah kata'' sumpah kami dulu.

selain cerita itu aja gue juga punya cerita cinta juga.dimulai saat aku masuk 1 smp.dan wanita itu bernama ULUL.dia itu punya kelebihan banyak.dari badan hingga sifat.loohhhhh kok gua jadi bilangin aneh-aneh dulu sih.sebelumnya namaku adalah hilmy arifansyah(samaran).nahh itu dulu aja yaa gua hanya ceritain yang awal'' doang.nanti aye postingin lanjutannya.