Jumat, 12 Januari 2024

Kumpulan mimpi Sekte sesat terbaik tahun 2019

 


   Tepat jam tiga sore saya memulai menulis cerita ini. Dengan menikmati tepi barat Madura dan bermandikan matahari, yang tidak tahu darimana datangnya. Padahal pulau Jawa nampak kelabu, dan tak memungkinkan melihat sang Arjuna. Kopi hijau saran kakang Bendol menjadi ketertarikan saya sendiri memaknai pinggir laut Madura hari ini. Mungkin ada yang menebak di tulisan saya bakal ada rokok, karena secara istilah, itu teman kopi. Ada benarnya juga, saya cukup pusing untuk menghisap uap elektronik.

   Menikmati tiap detiknya dan sedikit beremosi didalamnya, menumbuhkan pikiran "besok saya mau jadi apa kalau kayak gini terus?". menyusul mimpi-mimpi kawan sepenangkaran yang terlihat jelas dan semakin menuju titik lokasinya.

   Tak genap dari sebulan, hari lalu saya menjadi asisten fotografer seseorang yang bangga dengan ilmu Parentingnya. Semakin lama, semakin kesana saja orang ini. Dalam selayak pandang mata saya, ia menerima permintaan jepret foto yang diidam-idamkannya dua tahun lalu. Saya mengamati perkembangannya yang mulai dari memfoto sekitar, lalu mengikutinya di ranah tersebut. Orang ini juga belajar cara bersolek, hanya untuk memuaskan kesukaannya. 

   Terbesit pikiran bahwa orang itu butuh asisten yang tidak asal samacam saya di masa depan, orang yang mengetahui secara pasti cara menggunakan kamera beserta fitur-fiturnya. Apalagi cita-cita keluarga happy kiyowo-nya membuat saya ingin agak menjauh sedikit, agar suaminya nanti tidak cemburu. Maklum saja, muka saya mendukung sebagai pelaku poligami.

   Lalu syaraf otak beralih kepada manusia anti kritik yang saya ajak bicara dini hari tadi. Mimpinya terasa seperti utopis, namun saya yakin ia bisa mewujudkannya jikalau ia tetap keras hati kepada siapapun. Betapa tidak utopis, pria narsistik itu ingin hidup di wilayah kepimilikannya sendiri tanpa intervensi dari orang-orang gila yang menjajah tanah di desa.

   Ada perbedaan pada cara kami berpikir, yang pernah saya utarakan langsung kepadanya, yakni "kita akan bentrok", pada beberapa tahun lalu. Dia beringinkan hidup bertahan dari gempuran manusia 'goblok' dan menciptakan kelompok tandingan yang jelas berbeda dengan saya, yaitu lebih baik menggenosida atau menyerang. Tapi, saya mendukungnya agar dia bisa menghabiskan sisa hidup dengan keberdikarian-nya.

   Baik lah, manusia boleh bermimpi seliar apa dan boleh seekstrim apa mewujudkannya, toh semua punya jalannya sendiri. Kembali kepada kisah cinta pada duniawi, yang saya dapatkan pada si kakang Bendol. 

   Cinta kakang Bendol pada per kafir kafein- an menyimpulkan saya pada satu pertanyaan, "Seberapa lama kakang ingin melek?". Pasalnya, ia adalah peminum tangguh yang menganggap air apapun tetaplah air, ia tidak perduli dengan kecanduan, yang sebenarnya ia sudah menjadi candu itu sendiri. 

   Bermula dari mimpi sederhana kakang Bendol membuat warung kopi sendiri, padahal ia berlatar intelek melek hukum, namun ia tak mau menggunakannya. Haha, terdengar seperti " ijazah hanya sebuah kertas". Apapun itu, ia sudah belajar untuk selalu mawas diri dari sebuah kopi yang menjaga matanya dari perilaku merenggut keanarkisan kaum akar rumput. Saya paham akan cintanya pada orang-orang yang berpikir "ngopi ae gak resiko".

   Kalaupun ada orang yang berpikiran mengikuti arus global warming, seperti kebejatan mental, bahasa untuk ngeseks (love langauge), dan perkara halu lainnya, saya bisa mengajukan pion bernama "Let It Flow", oke kita singkat saja namanya menjadi Silit.

   Silit menyempil di antara dua bokong, dan keberadaanya adalah penyeimbang dua benda bulat tak berpentil. Ini bukan meracau kisanak, si Silit ini memang tidak selalu terlihat diantara sekte 19 (nomor togelnya pelacur), tapi keberadaanya menjadi poros untuk menetralkan sebuah perang idealis di antara sekte sesat. Gaya bahasanya familiar di feed Instagram, terlihat sepele, namun itu adalah pandangan objektif dari masyarakat. 

   Silit juga menjadi tempat kedua favorit, setelah v*g*n*. Jikalau anda berpikir saya jorok, berarti anda tidak se-open minded si Silit. Maksud saya, Silit ini terlihat ingin cepat sekali menikah atau memanfaatkan organ intimnya, lalu menjalani kehidupan normal ala-ala pepatah orang tua. Lucu sekali, Silit terlihat hanya ingin di tengah diantara dua bokong.

   Lalu ada seseorang pria bertubuh tidak pasti yang bisa diartikan, mungkin satu gerakan dengan si Silit. Awalnya saya mengira, efek Ratu Elizabeth menghegemoni tutur bicaranya kepada seluruh dunia menjadi pengaruh Silit dan pria yang bakal kita sebut 'orang ini' menjadi seliar itu mengilhami demokrasi dan pengaruh barat.

   Tapi, Orang ini terlihat agak berbeda walaupun sama. Penampilan dan gaya sosialita bak bapak bapak kompleks perumahan, meyakinkan saya untuk terpaksa mengakuinya sebagai seorang "ibu". Orang ini selalu menjadi sosok ibu bagi orang-orang penangis disekitarnya (walaupun saya tahu sesangar apa dia dalam mendogma pikiran orang lain).

   Akhir-akhir waktu, 'orang ini' semakin mendalami perannya sebagai anti Asia. Saya memandangnya sebagai seonggok manusia yang tertarik dengan kebarat-baratan, mulai dari topik pembahasaan, film, lagu, dan ranah lainnya. Orang ini juga semakin tekun dalam keinggrisan, tak dapat dipungkiri, saya mendoakan ia menjadi pro dalam studinya. Semoga 'orang ini' mampu berkuliah di luar negeri seperti keinginannya, dan sepanjang hidup mencolikan bule-bule di luar Indonesia.

   Oke, agak bosan untuk mengikuti tulisan ini pemirsa?, seperti halnya perempuan yang akan saya ceritakan sehabis ini. Keras kepala, tidak mau mengalah, egois, tidak mau jadi guru, tidak mau dipanggil nama depannya, suka merica. Saya definisikan sekalimat itu untuk memecah hubungan orang-orang yang nyaman dengannya. Walaupun, kepolosan dan ketakdzimannya menjadi modal kuat dalam mempengaruhi orang sekitar, tapi saya tetap memandang perempuan itu seperti kalimat di atas. Entah kenapa, saya lebih suka kamu seperti itu, Merica.

  Ketidakinginannya menjadi guru, berkeinginan kerja sesukanya, dan tidak menargetkan secara pasti masa depan, menurutku..Hey, kamu cukup polos di sikap saja, bukan pemikiran juga. Tapi, saya salut dengan kekerasan kepalanya, natural dan kesantunanya akan saya hormati sepanjang usia. Cukuplah 'perempuan', kamu tidak jadi seorang guru, tapi aku yakin kamu tetap guru dimanapun kamu memilih semak belukarmu sendiri. Semoga kucingmu, tidak mati ketika kita bertelpon.

   Mimpi-mimpi dan harapan masa depan mereka menjadi dua sisi pada pikiran saya, yakni "saya ini siapa?" dan "saya ini siapa-siapa". Sepertinya saya bisa menjadi diri saya sendiri, orang yang menemukan diri sendiri di orang lain semacam mimpi sekte tersesat tadi, di tempat berbeda, di waktu kapanpun. 

   Saya rasa, menjadi petualang atau orang yang senang tersesat adalah hal baik, karena itu merangsang otak untuk memikirkan jalan keluar. Mimpi saya sederhana, namun sulit mungkin jikalau menjadi dan mencari saya secara harfiah dan metafora. Karena saya akan menjadi nomaden yang terus mencari-cari seperti kisah Ibrahim dengan tuhannya, atau bisa anda sebut 'petualang'.


Hilmy Fahrul A.K.A Modcha, Ahr 
- 3 Oktober 2022 -




Tidak ada komentar:

Posting Komentar