Gelap malam adalah waktu yang indah untuk terlelap dan menjauhkan diri dari berisiknya manusia dan pikiran. Namun, pernahkah kau mendengar tangisan dan ratapan pada pukul dua pagi?.
Jika kau anggap itu kuntilanak dan mahluk ghoib tidak masalah, tapi bukan itu yang ingin kuberi tahu. Tangisan yang kumaksud adalah tangisan manusia yang darimana asalnya dia bisa se-letoy itu. Untuk apa malam kau sesali?, Hey, aku berbicara pada kau yang berharap putus asamu, cintamu, pekerjaanmu, dan tetek-bengeknya menjadi sesuatu yang indah. Toh, esok pagi kau akan terbangun, dan harus berjuang untuk memuaskan ratapan-ratapan bulanmu itu.
Jika ku mengetuk pintu kamar kalian wahai para hamba kesedihan gulita, apakah kalian bakal diam dan kembali tidur?. Tidak, aku yakin kalian hanya ingin pelukan hangat dari orang-orang tidak jelas yang menggedor pintu jam tiga pagi ini dan memohon perlindunganku.
Jancok, mintalah perlindungan pada tuhan, aku bukan nabi yang diutus menyelamatkan umat, aku hanya tetangga yang terganggu suara risaumu itu. Terus, apalagi ini?, ada sisa gerusan obat-obat tidak jelas di sekitar paha mereka, bahkan mereka menangis hingga matanya memerah, dan mengalami tremor. Pergilah ke dokter, pelacur. Kau nampak sakit, jika kau tak mampu akan kuantarkan engkau kesana hingga sembuh dan jangan pernah menggangguku lagi.
Kesalnya lagi, mereka ini apakah tidak punya sesuatu yang dapat diimpikan kah?, Terbukti setiap malam berjaga, tidak makan dan minum, bahkan bisa terdiam dalam satu fokus untuk jangka waktu yang lama. Apalagi mereka ini besoknya menghamba dunia, mencari uang, lalu berkeluh kesah lagi. Memang kemanakah uang-uangmu itu, tidak dapatkah kau membeli kebahagiaan?.
Pernah suatu hari mereka datang menghampiriku di rumah, meminta agar memberi makanan dan ditemani sedikit malamnya. Memangnya mereka-mereka ini tidak punya rumah kah, Maksudku secara harfiah dan metafora. Terbukti selalu memohon untuk dipersilahkan berteduh di rumahku, itu pun tidak dalam waktu yang singkat. Kadang aku harus bercengkrama hal tidak perlu, hanya untuk membuatnya merasa nyaman. Aku mendengar cerita mereka, karena aku hanya ingin mereka segera pergi, menemukan rumah mereka kembali (jika lupa jalannya). Memangnya mereka saja yang punya masalah?, aku juga punya waktuku sendiri, aku juga ingin menghabiskan waktuku sendiri, berbahagia. Tidak seperti mereka yang tersesat ini.
Kadang aku berpikir, seberat itu kah hidup di dunia, hingga aku harus terganggu dan mereka harus mencari-cari orang sepertiku. Memang sesulit itu mencari ketentraman hati, hey.. orang-orang tak punya harapan. Aku memeluk dan menangis bersamamu, karena aku terbawa suasana.
Terserah mereka menganggapku iblis, malaikat, hewan atau apa-lah itu namanya. Mereka juga punya hak untuk memeluk dan mencampakkanku. Aku di sini hanya untuk menunggumu tidak mengganggu malam-malamku.
Bisa saja mereka menghabiskan sepanjang hidupnya untuk merasakan sepinya dunia. Atau memelukku hingga nafas terakhir para bangsat ini mendengus di telingaku. Bahkan, kembali ceria dan mencampakkan malam-malam lalu yang bersamaku. Aku tidak peduli, kebahagiaanku itu harus, kebahagiaan mereka juga terserah mereka, jikalau mengikuti prinsipku, ya harus.
Biarkan aku di sini menghisap tembakau-tembakau terakhirku dan berpikir. Mungkin aku bisa berselimut di ranjangku dan tidak terganggu oleh manusia-manusia berisik, tapi aku tidak bisa mengulang waktu untuk menghangatkan mereka yang kedinginan di luar sana.
Aku tak ingin kehilangan 'dirinya' lagi.
Modcha, 2 Syawal 1444 Hijriah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar