Tata
Sudah
lebih dari seminggu Tata meninggalkan ‘pria’ yang dianggapnya hidung belang.
Tata kesal, sekaligus marah dengan prilaku pria tersebut yang menduakannya
dengan wanita lain. Tata menganggap bahwa dia adalah orang yang tidak setia,
maka pantas untuk meninggalkannya.
Tata
menangis pada malam saat dia mencampakkan ‘pria’ itu, dia sangat kecewa akan
apa yang telah mereka perbuat sebelumnya. Menangislah sejadi-jadinya hingga ia
melupakan dan menghapus segala memori tentang pria tersebut. Tata yang bekerja
di sebuah perusahaan sepatu, mula-mulanya tidak fokus bekerja karena
keputusannya ini, dia menjadi seseorang yang menutup diri dari semuanya, membenci
segala pria di sekitarnya. Karena dia khawatir akan terulang kembali.
Nita
teman kerja Tata, merasakan adanya ketidakberesan akan prilaku Tata akhir-akhir
ini. Dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan, apabila Tata masih
tidak fokus bekerja. Nita yang kebetulan sebangku saat makan siang dengan Tata,
memberanikan diri untuk bertanya. ”Kamu Kenapa,? Tanya Nita sambil memakan
bekalnya, ”nggak apa-apa.” Jawab Tata. ”Malam ini aku ke kost-anmu yah, aku mau
tanya soal pakaian, kamu kan pinter milih-milih desain.” Tanya Nita. Tata pun
meng-iyakan permintaan Nita.
Pada
malam harinya Nita datang menemui Tata. Mereka bercengkrama tentang desain baju
hingga larut malam, hingga Nita berhasil memengaruhi Tata untuk jujur dengan
kondisinya. “Ta, kamu harus fokus kerja, biar tidak menganggu prosesmu nanti,”,
”aku gak bisa fokus, aku masih kecewa dengan sikap ‘dia’ yang
menduakkanku,”,”kamu harus meninggalnya Tata, dia nggak baik buat kamu, masih
banyak yang lebih baik dari ‘dia’, aku bisa mengenalkanmu pada saudaraku,
kok,”,”nggak, aku nggak mau semua terulang, semua lelaki sama aja,”,”coba dulu,
masih banyak yang lainnya kok,” Nita meyakinkan Tata dengan menunjukkan nomor
telepon lelaki yang dijanjikannya. ”kamu yakin?” Tata masih
ragu-ragu.”sudahlah, coba dulu.”
Nita
berhasil menenangkan pikiran Tata pada malam itu. Pada keesokan harinya, Tata
mencoba untuk fokus bekerja dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tata mulai memberanikan diri bertemu dengan lelaki
barunya, Husain, setelah saling mengirim pesan melalui aplikasi pesan singkat
selama 2 bulan. Mereka bertemu di taman Bungkul, pada malam hari sabtu bulan
Juni. Awalnya mereka canggung, akan tetapi mereka berhasil memahami satu sama
lain. Yang itu, berlanjut hingga mereka berhasil pacaran dan menikah. Tata dan
Husain dikaruniai seorang putra lucu bernama Roy.
Kehidupan
rumah tangga mereka berjalan dengan langgeng, hingga Husain yang notabene
adalah supir truk harus bekerja diluar pulau untuk menghidupi keluarganya,
karena Husain merasa bekerja di luar pulau dapat membuat keluarganya lebih
sejahtera. Tata dan Roy yang ditinggal Husain bekerja, pada awalnya hidup
dengan tentram. Hingga Husain harus dipecat oleh perusahaannya karena dianggap
tidak becus dalam bekerja, selama 3 bulan berbakti pada perusahaan.
Husain
yang dulu baik dan tangkas, berubah menjadi pria pemabuk. Dia pulang ke
rumahnya melaporkan kondisinya sekarang dengan keadaan mabuk arak. Tata yang
menyadari akan perubahan suaminya ini, memarahi dan mengingatkannya. Husain
tidak lagi peduli pada istrinya, beban hidup dan keputusasaannya terhadap
pekerjaan, membuat Husain menyakiti Tata. Husain memukul istrinya itu
berkali-kali, hingga mulut Tata mengeluarkan darah. ”Aku sudah muak denganmu,
aku tak pernah dilakukan seperti ini pada pria terdahuluku, dia selalu meminta
maaf, dan malah menyuruhku untuk memukulnya apabila dia salah. TIDAK SEPERTI
KAMU,” Tata pergi meninggalkan rumah dengan menggendong anaknya yang masih
bayi. Anaknya tersebut dititpkan pada orang tua Tata, yang tinggal di Tuban.
Tata yang merasa bersalah kepada ‘pria’ tersebut, mulai mencari keberadaannya.
Tata mencari ‘pria’ itu dari mulut ke mulut tempat pria iu inggal. Hingga, Tata
mendengar kabar bahwa ‘Pria’ itu telah meninggal 1 tahun yang lalu, karena
sebuah insiden. Tata juga mendapat informasi, bahwa ‘pria’ tersebut tidak
pernah merasakan berkeluarga seumur hidupnya. Menangislah sejadi-jadinya Tata
mendengar kabar tersebut.
Tata
kecewa dengan sikapnya meninggalkan pria tersebut. Tata tidak pernah mendengar
cerita, atau jawaban dari pria tersebut seumur hidupnya. Bahkan, Tata tidak
pernah membalas jasa si pria tersebut. Tata pun tersiksa hatinya, hari itu.
Meninggalkan luka yang dalam pada hatinya, hingga terkoyak dan tak dapat
dijahit kembali.
Rama
Rama
yang kehilangan orang dicintainya tersebut, merasa bersalah. Dia tidak
memberikan jawaban yang benar sebelum Tata, orang yang dicintai
meninggalkannya. Rama yang mempunyai banyak kenalan wanita lain di nomor
teleponnya, tidak lagi merasa bernafsu untuk mencari pengganti Tata. Dia
berpendapat bahwa tidak akan ada lagi yang menyakitinya, dan dia tidak ingin
menyakiti wanita lain selain Tata.
Idealisme
yang kuat ini mengantarkannya pada kesuksesannya setelah menempuh pendidikan
universitas. Dia berhasil fokus dalam mengarungi lika-liku kehidupan, hingga
menjadi pria sukses. Kesuksesannya tidak mempengaruhi kondisi psikis dan
idealismenya yang kuat. Dia masih membujang hingga waktu yang lama.
Rama
semakin merasakan kehidupannya tidak berguna. Dia tidak berhasil membawa mimpi
orang tuanya, yang meningingkannya menikah dan mempunyai cucu. Dia hawatir akan
menyakiti hati yang lain. Sehingga, Rama mengambil cuti kerja seminggu untuk
menenangkan pikirannya di Bali.
Rama
yang telah melalui 3 hari di Bali, masih merasa bahwa despresinya tidak
berkurang, malah semakin menjadi. Hingga akhirnya, tibalah pada hari ke empat.
Rama yang mempunyai jadwal menaiki kapal pada hari itu menuju nusa penida,
nekat menceburkan diri ke laut hingga dirinya tewas pada hari itu juga. Rencana
bunuh dirinya ini sangat matang, dia memang sudah berencana bunuh diri pada
umur 21 tahun, dia mengkonsep bunuh dirinya scara rapi agar tidak pernah
diidentifikasi sebagai bunuh diri, dan rama juga telah menulis di ribuan lembar
kertas wasiatnya.
Rama
meninggalkan semua yang ada, dia bertemu dengan pujaannya ‘Ghost Girl’.
Isi
sebagian surat wasiat Rama :
Tata maaf mengecewakanmu, tetapi
mereka bukanlah siapa-siapaku. Mereka hanya orang sedih yang kuberi motivasi
agar mereka mampu menjalankan hidupnya.
Maafkan aku bila tidak bisa menjelaskan semua ini kepadamu, aku hanya
ingin fokus pada kehidupanku dahulu, sebelum kita bisa hidup bersama. Tapi,
tidak mungkin. Aku harus kehilanganmu terlebih dahulu. Aku despresi hingga saat
itu, kau tidak ada disisiku, hal itu membuatku tidak tenang, aku masih belum
menceritakan semuanya padamu.
Tata, semoa kau bahagia dengan
kehidupanmu, lupakan semua pemberianku, lupakan. Aku bukanlah siapa-siapa lagi
sekarang. Kini biarkan aku bertemu ‘Ghost Girl’ , aku yakin dia sudah
menungguku. Aku pun sudah mendengar kabar tentang keluarga kecilmu, semoga
tuhan bersamamu. Biarkan aku berdarah kali ini, meski kau tidak pernah berdarah
untukku. Biarkan aku bebas kali ini, membawa semua rasa sakit ini, kuharap kau
tidak pernah mengenalku,Tata.
