Kamis, 19 Maret 2020

Rama dan Tata


Tata
Sudah lebih dari seminggu Tata meninggalkan ‘pria’ yang dianggapnya hidung belang. Tata kesal, sekaligus marah dengan prilaku pria tersebut yang menduakannya dengan wanita lain. Tata menganggap bahwa dia adalah orang yang tidak setia, maka pantas untuk meninggalkannya.
Tata menangis pada malam saat dia mencampakkan ‘pria’ itu, dia sangat kecewa akan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya. Menangislah sejadi-jadinya hingga ia melupakan dan menghapus segala memori tentang pria tersebut. Tata yang bekerja di sebuah perusahaan sepatu, mula-mulanya tidak fokus bekerja karena keputusannya ini, dia menjadi seseorang yang menutup diri dari semuanya, membenci segala pria di sekitarnya. Karena dia khawatir akan terulang kembali.
Nita teman kerja Tata, merasakan adanya ketidakberesan akan prilaku Tata akhir-akhir ini. Dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan, apabila Tata masih tidak fokus bekerja. Nita yang kebetulan sebangku saat makan siang dengan Tata, memberanikan diri untuk bertanya. ”Kamu Kenapa,? Tanya Nita sambil memakan bekalnya, ”nggak apa-apa.” Jawab Tata. ”Malam ini aku ke kost-anmu yah, aku mau tanya soal pakaian, kamu kan pinter milih-milih desain.” Tanya Nita. Tata pun meng-iyakan permintaan Nita.
Pada malam harinya Nita datang menemui Tata. Mereka bercengkrama tentang desain baju hingga larut malam, hingga Nita berhasil memengaruhi Tata untuk jujur dengan kondisinya. “Ta, kamu harus fokus kerja, biar tidak menganggu prosesmu nanti,”, ”aku gak bisa fokus, aku masih kecewa dengan sikap ‘dia’ yang menduakkanku,”,”kamu harus meninggalnya Tata, dia nggak baik buat kamu, masih banyak yang lebih baik dari ‘dia’, aku bisa mengenalkanmu pada saudaraku, kok,”,”nggak, aku nggak mau semua terulang, semua lelaki sama aja,”,”coba dulu, masih banyak yang lainnya kok,” Nita meyakinkan Tata dengan menunjukkan nomor telepon lelaki yang dijanjikannya. ”kamu yakin?” Tata masih ragu-ragu.”sudahlah, coba dulu.”
Nita berhasil menenangkan pikiran Tata pada malam itu. Pada keesokan harinya, Tata mencoba untuk fokus bekerja dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tata  mulai memberanikan diri bertemu dengan lelaki barunya, Husain, setelah saling mengirim pesan melalui aplikasi pesan singkat selama 2 bulan. Mereka bertemu di taman Bungkul, pada malam hari sabtu bulan Juni. Awalnya mereka canggung, akan tetapi mereka berhasil memahami satu sama lain. Yang itu, berlanjut hingga mereka berhasil pacaran dan menikah. Tata dan Husain dikaruniai seorang putra lucu bernama Roy.
Kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan langgeng, hingga Husain yang notabene adalah supir truk harus bekerja diluar pulau untuk menghidupi keluarganya, karena Husain merasa bekerja di luar pulau dapat membuat keluarganya lebih sejahtera. Tata dan Roy yang ditinggal Husain bekerja, pada awalnya hidup dengan tentram. Hingga Husain harus dipecat oleh perusahaannya karena dianggap tidak becus dalam bekerja, selama 3 bulan berbakti pada perusahaan.
Husain yang dulu baik dan tangkas, berubah menjadi pria pemabuk. Dia pulang ke rumahnya melaporkan kondisinya sekarang dengan keadaan mabuk arak. Tata yang menyadari akan perubahan suaminya ini, memarahi dan mengingatkannya. Husain tidak lagi peduli pada istrinya, beban hidup dan keputusasaannya terhadap pekerjaan, membuat Husain menyakiti Tata. Husain memukul istrinya itu berkali-kali, hingga mulut Tata mengeluarkan darah. ”Aku sudah muak denganmu, aku tak pernah dilakukan seperti ini pada pria terdahuluku, dia selalu meminta maaf, dan malah menyuruhku untuk memukulnya apabila dia salah. TIDAK SEPERTI KAMU,” Tata pergi meninggalkan rumah dengan menggendong anaknya yang masih bayi. Anaknya tersebut dititpkan pada orang tua Tata, yang tinggal di Tuban. Tata yang merasa bersalah kepada ‘pria’ tersebut, mulai mencari keberadaannya. Tata mencari ‘pria’ itu dari mulut ke mulut tempat pria iu inggal. Hingga, Tata mendengar kabar bahwa ‘Pria’ itu telah meninggal 1 tahun yang lalu, karena sebuah insiden. Tata juga mendapat informasi, bahwa ‘pria’ tersebut tidak pernah merasakan berkeluarga seumur hidupnya. Menangislah sejadi-jadinya Tata mendengar kabar tersebut.
Tata kecewa dengan sikapnya meninggalkan pria tersebut. Tata tidak pernah mendengar cerita, atau jawaban dari pria tersebut seumur hidupnya. Bahkan, Tata tidak pernah membalas jasa si pria tersebut. Tata pun tersiksa hatinya, hari itu. Meninggalkan luka yang dalam pada hatinya, hingga terkoyak dan tak dapat dijahit kembali.
Rama
Rama yang kehilangan orang dicintainya tersebut, merasa bersalah. Dia tidak memberikan jawaban yang benar sebelum Tata, orang yang dicintai meninggalkannya. Rama yang mempunyai banyak kenalan wanita lain di nomor teleponnya, tidak lagi merasa bernafsu untuk mencari pengganti Tata. Dia berpendapat bahwa tidak akan ada lagi yang menyakitinya, dan dia tidak ingin menyakiti wanita lain selain Tata.
Idealisme yang kuat ini mengantarkannya pada kesuksesannya setelah menempuh pendidikan universitas. Dia berhasil fokus dalam mengarungi lika-liku kehidupan, hingga menjadi pria sukses. Kesuksesannya tidak mempengaruhi kondisi psikis dan idealismenya yang kuat. Dia masih membujang hingga waktu yang lama.
Rama semakin merasakan kehidupannya tidak berguna. Dia tidak berhasil membawa mimpi orang tuanya, yang meningingkannya menikah dan mempunyai cucu. Dia hawatir akan menyakiti hati yang lain. Sehingga, Rama mengambil cuti kerja seminggu untuk menenangkan pikirannya di Bali.
Rama yang telah melalui 3 hari di Bali, masih merasa bahwa despresinya tidak berkurang, malah semakin menjadi. Hingga akhirnya, tibalah pada hari ke empat. Rama yang mempunyai jadwal menaiki kapal pada hari itu menuju nusa penida, nekat menceburkan diri ke laut hingga dirinya tewas pada hari itu juga. Rencana bunuh dirinya ini sangat matang, dia memang sudah berencana bunuh diri pada umur 21 tahun, dia mengkonsep bunuh dirinya scara rapi agar tidak pernah diidentifikasi sebagai bunuh diri, dan rama juga telah menulis di ribuan lembar kertas wasiatnya.
Rama meninggalkan semua yang ada, dia bertemu dengan pujaannya ‘Ghost Girl’.

Isi sebagian surat wasiat Rama :
Tata maaf mengecewakanmu, tetapi mereka bukanlah siapa-siapaku. Mereka hanya orang sedih yang kuberi motivasi agar mereka mampu menjalankan hidupnya.  Maafkan aku bila tidak bisa menjelaskan semua ini kepadamu, aku hanya ingin fokus pada kehidupanku dahulu, sebelum kita bisa hidup bersama. Tapi, tidak mungkin. Aku harus kehilanganmu terlebih dahulu. Aku despresi hingga saat itu, kau tidak ada disisiku, hal itu membuatku tidak tenang, aku masih belum menceritakan semuanya padamu.
Tata, semoa kau bahagia dengan kehidupanmu, lupakan semua pemberianku, lupakan. Aku bukanlah siapa-siapa lagi sekarang. Kini biarkan aku bertemu ‘Ghost Girl’ , aku yakin dia sudah menungguku. Aku pun sudah mendengar kabar tentang keluarga kecilmu, semoga tuhan bersamamu. Biarkan aku berdarah kali ini, meski kau tidak pernah berdarah untukku. Biarkan aku bebas kali ini, membawa semua rasa sakit ini, kuharap kau tidak pernah mengenalku,Tata.

Jumat, 06 Maret 2020

Tribute to Emnx





Mdch :

Pagi ini aku merasa sedikit senang, karena hari ini adalah hari sabtu, dimana besoknya adalah waktu libur sekolah. Tak terlepas dari kejadian menyenangkan hari kemarin, aku semakin siap menghadapi hari-hari berikutnya. 

Mulailah aku dengan menjadi murid sekolah yang tenang, yang mengharapkan segera tibanya bel pulang sekolah. Aku pun segera beranjak dari kelas yang telah kusinggahi selama 5 jam tersebut hari ini. 

Aku selalu bersama kakak ku, dia juga murid yang sama di sekolah kami. Aku mereka-reka bahwa kami akan berkumpul lagi bersama teman-teman lain, seperti rutinitas kami pada hari sabtu yang lain. kakak ku berkata "ikut aku mencari ukulele" dengan wajah yang seperti kebingungan. Kami pun berangkat mengitari pasar Krian mencari ukulele itu, hingga menemui sebuah toko olahraga. Negosiasi barang berjalan pada angka 75.000, kakak ku pun membelinya. Pikiranku kembali lagi pada awal, 'apakah kami akan berkumpul bersama teman-teman?'. Kakak ku yang menyetir sepeda motor seperti memberi isyarat tidak, dia langsung beranjak pulang ke rumah.

Kami berpisah sementara waktu, aku tak bisa melihatnya tertawa atau tersenyum hari ini. aku pun pulang ke rumahku sendiri. Senja tiba menggerogoti matahari, aku menuju rumah kakak ku, akan tetapi dia sedang pergi. Aku menunggunya dengan memainkan ponselku, hingga waktu menunjukkan sekitar jam 8 malam. Dia pulang dan menghampiri diriku.

"aku pinjam hp-nya" ujarnya. tetapi baterai ponselku sudah hampir habis, aku pun bergegas meninggalkannya pulang. waktu itu aku tidak melihat wajahnya sama sekali, tapi aku seperti paham bahwa dia sedang kecewa, karena aku tidak meminjaminya hpku. Aku pun pulang ke rumah dan tidur. dia pun juga pergi bersama teman-teman yang lain.

Emnx :
Suatu malam kami bertiga yang sudah berjanji bertemu, aku, idham, egy akan berangkat ke sebuah tempat. Menghabiskan satu gelas terakhir dan berangkat kembali. kami bertiga berboncengan sebuah motor, tiba-tiba ada sepeda motor dari arah lain melaju kencang dengan membawa sesuatu di tangannya mendekati kami, oleng ke kanan dan menjatuhkan kami bertiga. Aku berputar ke tanah, wajah kiriku mencium aspal, darah mengalir dari segala tempat, aku bisa menciumnya, ya bau darah yang melekat di aspal, sungguh bau yang indah.
Malang nian nasibku, aku tak berdaya menggerakkan tubuhku, pandanganku semakin kabur, aku khawatir dengan kesadaranku, "wahai pelipis kiri, kenapa kau tidak menghentikan si darah untuk mengalir?, aku sudah pusing". Aku tak mengerti dengan apa yang kulihat, semua berjalan cepat, aku menuju dari meja ke meja. Bapak ku, ya aku bisa melihatnya sekilas, "apa yang terjadi padaku pak?, dimana ibu?, aku takut semua semakin gelap, dimana adikku?, aku tak bisa merasakan wajahku, kenapa aku tak bisa menangis?."

Semua terasa gelap, hingga sepercik cahaya menyilaukan mataku, kukejar cahaya itu, kuharap aku bisa segera mengetahui apa yang terjadi.

Mdch :

Aku mendengarnya, antara jam 2 pagi, aku tidak percaya bahwa kakak akan meninggalkan kami, aku tak bisa tidur setelah itu. Menunggu kedatangannya, hingga akhirnya dia datang dengan mobil putih langganan rumah sakit. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya, hingga aku mengikutinya pada sebuah pemakaman. Kain itu disingkapkan dari wajahnya, aku melihat liang yang berair itu berwarna merah, darah masih mengalir di otaknya, hingga semua berakhir, hingga aku berjalan pulang kembali ke rumah kakak ku.

Jam 6 pagi, aku tidak percaya, "apakah hari ini benar-benar ada?"

  rest my brother in the same day at 8 March 2015. I hate you leave me, I hate this day, I lose every game I play. But i just want one thing, hug and never let you go again. 

                                                                                                                                5 years after tragedy
                                                                                                                     See u later, my bloody rose


nb. penabrak itu tak pernah datang kerumah kami, menghilang, meninggalakn pisau lagi ditanganku.